Bencana Alam (Banjir) Jangan Cuma Diomongin Doank

Awal Tahun 2020 diliputi kedukaan dengan adanya bencana banjir di banyak daerah di Indonesia. Ada yang banjirnya disebabkan oleh gundulnya lahan akibat Aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI), ada yang disebabkan jebolnya tanggul, ada yang disebabkan karena derasnya aliran air di hilir, dan tentu saja yang paling menyedot perhatian adalah banjir di Jakarta. Frekuensi dan intensitas hujan ekstrem meninggi seiring efek dari pemanasan global. Tetapi sesungguhnya bencana lebih karena kegagalan menata ruang dan mengelola lingkungan. Di saat terjadi bencana tertentu, siapapun sibuk menjadi menjadi komentator. Mulai dari pejabat tinggi negara sampai rakyat jelata sibuk berkomentar atau minimal menjadi penonton setia media arusutama yang berjam-jam menayangkan video bencana dan ulasan komentar para pejabat dan pakar. Kemudian saat bencana sudah selesai, musim penghujan tak lagi tinggi, komentator jauh berkurang dan cenderung terlupakan pembahasan dan aksi solusi konkret agar kejadian tersebut tidak terulang. Sampai nanti di pertengahan tahun terjadi bencana kekeringan, dan siklus komentar tadi berulang kembali. Gitu aja terus sampai pinguin pindah ke Selatan Jawa.

Setelah “bencana tahun baru” tersebut, terjadi kembali banjir di daerah lain di daerah utara Indonesia. Secara statistik banjir Jakarta, berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, diawali curah hujan tinggi sejak 31 Desember 2019 yaitu rerata di atas 150 milimeter per hari. Bahkan curah hujan di Bandara Halim Perdanakusuma adalah 377 mm, tertinggi sejak pencatatan pada 1866. Sementara menurut BMKG Amerika Serikat hujan yang sangat deras adalah 50 mm per jam, sehingga apa yang terjadi memang tergolong hujan ekstrem. Menurut Kepala Subbidang PEringatan Dini Iklim BMKG, “dulu hujan 200 mm itu paling terjadi 100 tahun sekali. Sekarang menjadi 50 tahun sekali atau lebih cepat lagi”. Contoh lain di Tahuna, Kepulauan Sangihe menurut BMKG terkena 54,4 mm. Bukan tergolong hujan ekstrem tapi tetap mengakibatkan banjir, seperti Pantura Jawa. Hal mana dapat dikatakan bahwa banjir dan longsor yang terjadi didominasi adanya krisis ekologi.

Hasil studi para peneliti dari University of California, Davis dan juga diterbitkan di jurnal Environmental Science and Policy (2016) menyebut risiko banjir jangka panjang dan kegagal struktur justru dapat menjadi sebab kerugian yang lebih besar. Hal mana terlihat dari jebolnya tanggul Situ Gintung pada Maret 2009. Tanggul dapat menahan naiknya level air sungai atau saluran agar tidak menggenangi daerah sekitar. Namun, sangat mungkin level air melebihi batas atas tanggul dan tetap membanjiri daerah sekitar. Juga ada kemungkinan tanggul tersebut jebol dan justru membahayakan daerah sekitar, seperti yang terjadi di daerah Bekasi di awal tahun 2020 ini. Permukiman mereka sudah 3 tahun terakhir tidak ada banjir, tapi tahun ini terkena banjir minimal setinggi paha orang dewasa karena adanya tanggul yang jebol. Bukan hanya karena struktur yang dibuat mungkin tidak kuat, tetapi lebih mungkin karena struktur yang direncanakan tidak sanggup menahan beban akibat perubahan iklim sebagaimana disebut di paragraf sebelumnya (curah hujan rerata di atas 100 mm per hari). Tanggul hanyalah salah satu pilihan dari pencegahan bencana banjir. Usaha berbagai pihak yang konsisten dan berkelanjutan sangat diperlukan. Dari sisi pemerintah, pembangunan infrastruktur seharusnya juga memperhatikan sisi ekologis. Meskipun banyak tantangan dalam membangun infrastruktur yang memperhatikan sisi ekologi, terutama terkait dengan hak asasi manusia. Dari sisi warga negara/masyarakat, perilaku ramah lingkungan juga perlu dijadikan disiplin pribadi. Jangan hanya ingat tidak menggunakan sedotan plastik saat ngopi  di tempat mahal, tetapi juga kebiasaan tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik, menghemat listrik, dan kebiasaan ramah lingkungan lainnya. Sebagai contoh penutup, daerah Baduy di Lebak Banten sama sekali tidak terkena bencana meskipun daerah sekitarnya terkena bencana longsor dan bandang meskipun sama-sama mengalami curah hujan tinggi dan memiliki perbukitan dan lembah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

https://zonadamai.com/

Mari berdiskusi mengenai Filsafat, Hukum, Sumber Daya Manusia, dan Gagasan

Notes from an Indonesian Policy Wonk

Notes and Analysis on Indonesian Current Affairs and Policies

Khalid Mustafa's Weblog

Sebuah Catatan Kecil

Pan Mohamad Faiz, S.H., M.C.L., Ph.D.

Constitutional Law, Comparative Constitutional Law, Constitutional Court and Human Rights

JURNAL HUKUM

Mari berdiskusi mengenai Filsafat, Hukum, Sumber Daya Manusia, dan Gagasan

The Chronicles of a Capitalist Lawyer

Mari berdiskusi mengenai Filsafat, Hukum, Sumber Daya Manusia, dan Gagasan

Ibrahim Hasan

Mari berdiskusi mengenai Filsafat, Hukum, Sumber Daya Manusia, dan Gagasan

%d bloggers like this: