Kebijaksanaan Itu Didapatkan, Bukan Copy-Paste

Dulu aye pernah diberitahu bahwa suatu pengalaman orang lain itu bisa menjadi pengalaman kita juga tanpa harus mengalaminya. Apabila kita diceritakan suatu pengalaman, baik itu pengalaman baik atau buruk, yang pernah dialami orang lain maka kita dapat mengambil hikmah dari cerita tersebut. Ada benarnya, tetapi tidak sepenuhnya benar.

Hikmah atas pengalaman seseorang bisa kita dapatkan saat kita berpikir dan menganalisa cerita pengalaman tersebut. Kita ambil intisari dan mengambil kesimpulan sebagai hasil dari pemikiran kita, maka lahirlah kebijaksanaan. Namun, di sisi lain pengalaman orang lain tersebut yang menghasilkan kebijaksanaan bagi diri orang itu sendiri belum tentu sepemahaman dengan pikiran kita.

Mengambil hikmah tidak semudah mendengarkan cerita dan mencernanya lalu mengambil hikmahnya. Untuk menjadi sebuah kebijaksanaan kita perlu menggali lebih dalam atas pengalaman tersebut. Apa yang perlu digali? Misalnya kondisi orang tersebut saat itu bagaimana? Kondisi keluarga atau lingkungannya seperti apa? Bagaimana reaksi dari orang lain atas pengalaman orang tersebut?

Kebanyakan kita langsung lompat ke bagian kesimpulan tanpa memikirkan kompleksitas detail yang ada dan mungkin perlu ditanyakan mengenai cerita tersebut. Semisal teman kita menceritakan bahwa si A itu kelihatannya saja baik, tetapi aslinya suka mempermainkan wanita. Tanpa memikirkan motif teman kita, tanpa melihat opini orang lain yang juga kenal dengan A, tentu kita akan langsung percaya dengan cerita teman kita tersebut. Pengalaman atau pendapat pribadi satu orang langsung kita jadikan kesimpulan atas diri kita juga. Jangan-jangan saat kita sudah kenal A secara dekat, sudah mulai berinteraksi sendiri dengan si A, apa yang dibicarakan teman kita tidak terbukti. Hanyalah opini teman kita karena dia sangat membenci si A.

Andaisaja kebijaksanaan itu semudah membaca, mungkin kita semua akan sejahtera dan bahagia. Pengalaman orang lain mungkin bisa membantu kita menghadapi persoalan yang serupa, tapi cara kita menghadapi masalah tetaplah bersumber dari diri kita sendiri yang berasal dari pengalaman prbadi kita dalam menjalani suatu persoalan. Contoh sederhana lain misalnya kita melihat seorang montir yang memperbaiki ban mobil kita yang kempes, sungguh terlihat mudah dan cepat. Seandainya kita tidak pernah mencoba sendiri memperbaiki ban yang kempes, saat tidak ada montir atau orang lain yang membantu pasti kita akan kesulitan. Dongkrak diletakkan di bagian mana, cara menaikkan dongkar bagaimana, bagaimana cara memutar sekrup roda, dan sebagainya.

Jadi, kebijaksanaan itu diraih, dirasakan, dan diinternalisasi dalam diri kita. Tidak semudah melihat atau mendengar kemudian kebijaksanaan itu kita dapat dengan sendirinya. Jadikan setiap pengalaman itu modal berharga untuk diri kita ke depannya sebagai sebuah kebijaksanaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

https://zonadamai.com/

Mari berdiskusi mengenai Filsafat, Hukum, Sumber Daya Manusia, dan Gagasan

Notes from an Indonesian Policy Wonk

Notes and Analysis on Indonesian Current Affairs and Policies

Khalid Mustafa's Weblog

Sebuah Catatan Kecil

Pan Mohamad Faiz, S.H., M.C.L., Ph.D.

Constitutional Law, Comparative Constitutional Law, Constitutional Court and Human Rights

JURNAL HUKUM

Mari berdiskusi mengenai Filsafat, Hukum, Sumber Daya Manusia, dan Gagasan

The Chronicles of a Capitalist Lawyer

Mari berdiskusi mengenai Filsafat, Hukum, Sumber Daya Manusia, dan Gagasan

Ibrahim Hasan

Mari berdiskusi mengenai Filsafat, Hukum, Sumber Daya Manusia, dan Gagasan

%d bloggers like this: