Masa Depan Kita Tergantung Pada Apa Yang Kita Lakukan Saat Ini (Mahatma Gandhi)

Salah satu kawan saya adalah seorang female disk jockey (fdj) atau seorang DJ perempuan yang lumayan punya nama. Mungkin peringkatnya masuk 30 besar FDJ di Indonesia. Hanya saja semenjak ada pandemi, dan tidak boleh ada show atau dilarangnya tempat hiburan, ia pun beralih profesi. Kini ia mejadi seorang gamer, sudah gabung dengan tim yang seringkali bertanding secara daring. Itulah yang menjadi profesi barunya karena ia kini mencari rejeki lewat permainan daring. Meskipun pada awalnya ia tidak memberitahu ke tim dan lawan mainnya bahwa dirinya adalah FDJ, lama-lama mereka pun mengetahuinya. Sudah puluhan atau mungkin ratusan kali bertanding, tetap saja ia dipanggil mbak DJ. Tidak perduli sebagus apa permainannya di game online tersebut, kawan-kawan barunya lebih familiar terhadap kesan FDJ yang kuat melekat di dirinya.Itulah personal branding yang sudah terlanjur kuat pada diri kawan saya itu.

Personal branding atau citra diri itu akan tercetak dengan sendirinya dalam waktu yang panjang. Meskipun kadang kita tidak menyadarinya, tetapi tingkah laku, sikap kita, serta kemampuan diri kita yang unik dan spesial saja yang sejatinya membentuk citra diri itu di mata seluruh kawan dan kolega kita. Teringat dulu waktu pertama saya masuk kerja, atasan saya saat itu memberi pesan kepada kami semua yang saya ingat betul kata-kata yang beliau sampaikan “CV kalian itu bukan apa yang tertulis dan tercetak pada selembar kertas. CV kalian itu ada pada teman-teman, orang sekitar, atasan kalian, rekan kerja kalian. Jadi berbaik-baiklah kalian kepada orang lain siapapun itu dan bekerja dengan sebaik-baiknya dengan ikhlas dan optimal. Orang itu bisa naik karirnya, promosi dan sebagainya, karena ada kualitas pada dirinya yang dikenal oleh orang lain, termasuk saya sendiri.”. Tidak disangka beberapa tahun kemudian pesan tersebut ternyata benar memiliki makna yang mendalam.

Seorang yang berprofesi sebagai tentara misalnya, yang kita lihat menggunakan seragam loreng hijaunya, kesan pertama yang akan kita buat yaitu citra diri tentara yang tangkas, tegas, fisiknya bagus, dan nasionalismenya tinggi. Itulah contoh citra diri yang terkait erat dengan profesi. Namun, ada juga citra diri yang tidak terkait dengan profesi isalnya citra diri sifat seseorang, semisal bersahabat, pemarah, periang, dan sebagainya. Tergantung dari citra diri yang ingin kita bangun. Meskipun, tidak selalu citra diri itu dapat dibuat-buat tidak sesuai dengan kepribadian aslinya. Ada beberapa cara untuk memperkuat citra diri kita, diantaranya:

Temukan tujuan pencitraan diri

Pertama yang harus kita sadari, citra diri yang ingin kita pilih untuk dikenal orang itu untuk tujuan apa, apakah untuk meningkatkan karir, menambah pergaulan, meningkatkan penjualan, atau yang lainnya. Apabila sudah ditemukan tujuannya, maka kita secara perlahan dapat menyesuaikan sikap dan tingkah laku kita sesuai dengan tujuan citra diri yang sidah ditetapkan. Semisal kita ingin citra diri kita adalah seorang yang supel dan ramah, maka kita harus menyadari dulu citra diri kita apakah seorang yang bertolak belakang atau sudah mendukung, apakah kita justru pendiam atau pemarah namun citra diri yang diinginkan adalah supel dan ramah.

Pengulangan dan promosi keunggulan diri

Kelebihan kita yang paling menonjol dan kuat perlu untuk selalu ditampakkan dan disebarkan misalnya melalui media sosial kita atau pertemanan kita. Kualitas diri yang khas yang selalu kita tonjolkan akan dengan mudah diingat orang dan secara pasti menjadi citra diri kita. Misalnya kita memiliki ketertarikan terhadap analisis politik, maka kita bisa bergabung dengan grup analis politik, mem-posting hal-hal terkait analisis politik di sosial media, bergabung dengan partai politik tertentu, dan sebagainya.

Bangun cerita sejarah citra diri

Kita juga perlu memperkenalkan atau menceritakan mengenai sejarah hidup kita atau cerita berkesan yang membentuk dan mendukung citra diri yang kita pilih untuk dikenal orang lain. Semisal teman saya yang berhasil sembuh dari penyakit tertentu melalui obat-obatan herbal. Akhirnya setelah sembuh ia menekuni tanaman herbal yang terkait dengan berbagai penyakit. Sehingga ia kini dikenal sebagai “pakar” tanaman herbal alternatif. Karena ia dikenal pernah sakit, dan bisa sembuh “hanya” dengan tanaman herbal alternatif, dan kini ia menguasai tanaman obat yang tidak hanya terkait penyakitnya dahulu tetapi berbagai penyakit.

Konsisten mempertahankan citra diri Setelah menerapkan berbagai langkah sebelumnya, konsistensi mempertahankan citra diri tidak kalah penting bagi keberlangsungan citra diri yang kita bangun. Sebagaimana cerita saya di awal, seorang FDJ yang beralih profesi menjadi online gamer citra dirinya tetap dikenal sebagai FDJ, atau seorang yang pernah sakit kemudian bisa sembuh dari tanaman herbal menjadi pakar tanaman herbal, sehingga namanya dikenal dan banyak orang baru tau tentang dirinya dari cerita mulut ke mulut. Dengan konsistensi, maka citra diri yang kita inginkan dapat terbentuk dengan baik dan awet. Lalu, mau dikenal sebagai apakah kita?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

https://zonadamai.com/

Mari berdiskusi mengenai Filsafat, Hukum, Sumber Daya Manusia, dan Gagasan

Notes from an Indonesian Policy Wonk

Notes and Analysis on Indonesian Current Affairs and Policies

Khalid Mustafa's Weblog

Sebuah Catatan Kecil

Pan Mohamad Faiz, S.H., M.C.L., Ph.D.

Constitutional Law, Comparative Constitutional Law, Constitutional Court and Human Rights

JURNAL HUKUM

Mari berdiskusi mengenai Filsafat, Hukum, Sumber Daya Manusia, dan Gagasan

The Chronicles of a Capitalist Lawyer

Mari berdiskusi mengenai Filsafat, Hukum, Sumber Daya Manusia, dan Gagasan

Ibrahim Hasan

Mari berdiskusi mengenai Filsafat, Hukum, Sumber Daya Manusia, dan Gagasan

%d bloggers like this: