Generasi Milenial di Tengah Arus Revolusi Industri 4.0

Kritis terhadap isu-isu sosial, berpikir cenderung kreatif, akrab dengan teknologi dan gawai, itulah beberapa ciri generasi milenial. Generasi yang diharapkan akan dapat mengangkat citra Indonesia di masa 10 tahun dari sekarang dengan bonus demografinya.

Definisi generasi milenial sendiri bervariasi, ada yang bilang lahir antara 1980-an sampai 2000-an, ada yang berpendapat hanya yang lahir di tahun 1990an dan 2000an, ada juga yang menetapkan hanya khusus yang lahir di tahun 2000an. Apapun definisi yang kamu anut, yang jelas menurut Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk Indonesia usia produktif pada tahun 2020 s.d. 2030 akan mencapai 52 persen dari total jumlah penduduk Indonesia yang kata bang Rhoma sebanyak 135.000.000 melalui salah satu lagu dalam albumnya yang diluncurkan di tahun 1976. Tentu sekarang sudah jauh melampaui jumlah tersebut karena pada 2019 ini, Indonesia menempati urutan nomor 4 negara terbanyak penduduknya di dunia.
Kemudian apa sih yang dimaksud usia produktif? Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) sih usia produktif itu dari usia 15 sampai 64 tahun. Berarti anak SMU sudah bisa dibilang produktif lho sekarang!?!. Di sisi lain, Revolusi Industri 4.0 sudah mulai mulai didengung-dengungkan di dalam negeri. Meski di luar negeri, terutama di negara maju istilah itu bukan cuma didengung-dengungkan, tapi sudah dijalani, sudah dipraktekkan. Misalnya Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang sudah memiliki penyiar digital di stasiun televisi Xinhua, yang bentuk dan mimiknya seperti manusia asli, tapi sesungguhnya tidak pernah ada di dunia nyata. Atau perusahaan jasa Fedex yang memiliki robot pengantar barang jarak dekat yang diberi nama SameDay Bot. Nah, makin berkurang kan pekerjaan untuk manusia kalau semua sudah diganti robot atau cyborg??! Di negara kita juga sudah mulai banyak sih contoh penerapan Revolusi Industri 4.0, misalnya transportasi online (dalam jaringan/daring), toko daring, profil daring, dan sebagainya.
Perkembangan teknologi 4.0 tersebut meliputi teknologi nano, robotik, dan kecerdasan buatan yang semakin mengintegrasikan dunia fisik, biologis, dan digital, serta meliputi lingkup yang semakin melebar yang pada ujungnya justru mengancam eksistensi tenaga manusia. Dengan adanya Road Map Making Indonesia 4.0 yang menargetkan Indonesia menjadi 10 besar kekuatan ekonomi dunia apda 2030, usia produktif tadi mau tidak mau mempersiapkan dirinya untuk menghadapi tantangan tersebut. Bukan cuma resah dan berdiam diri melihat gelombang tenaga kerja asing yang katanya mulai membanjiri Indonesia.
Persoalan intinya bukan hanya mengenai definisi Unicorn, atau sekarang ada Decacorn, namun yang lebih kritikal yaitu bagaimana mengejewantahkan semangat Revolusi Industri 4.0 kepada mayoritas usia produktif tersebut. Bayangkan saja bila mayoritas dari 52% penduduk produktif tersebut masih berkutat di Industri 3.0 atau bahkan lebih rendah? Contohnya sebagian dari kita yang masih memberi minyak wangi kepada keris di setiap periode tertentu atau pergi ke makam untuk naik jabatan, mungkin yang seperti itu masih betah di Industri 2.0. Usia produktif diharapkan tidak hanya rajin mengomentari akun youtube atau instagram (menjadi netizen), tetapi juga misalnya membuat sesuatu yang menarik dan belum ada sebelumnya semisal kisak sukses vlog kreatif seperti Atta Halilintar, atau membuka usaha daring yang membuka lapangan kerja baru. Contoh profesi yang menjanjikan di era digital ini misalnya Data Scientist (mengumpulkan data dan menginterpretasikan kecedenderungan data tersebut), SEO Specialist (mengoptimalkan traffic ke situs tertentu sesuai keinginan pelanggan), Application Developer (para penggiat pembuat aplikasi start up), dan influencer (orang yang memiliki kharisma atau keunikan yang disukai banyak orang dan mempengaruhi banyak orang). Bahkan kini banyak juga kok calon legislatif (caleg) baru yang masih berusia muda dan sudah terjun ke dunia politik. Apapun itu, tidak ada kata terlambat dalam mengembangkan diri, dan mencapai kesuksesan dalam hidup. Kesuksesan bukan cuma uang, tapi kebanggaan diri yang bertanggung jawab, prestasi, dan tidak kalah penting kemanfaatan bagi manusia lainnya. Oleh karena itu, jangan mau ketinggalan dengan istilah Revolusi Industri 4.0, kita semua juga seharusnya bisa menjadi generasi milenial 4.0 yang memiliki keterampilan dasar yang mumpuni, melek literasi teknologi canggih, serta mampu bersaing dengan warga global dengan menjadi smart citizen atau bahkan smart netizen.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

https://zonadamai.com/

Mari berdiskusi mengenai Filsafat, Hukum, Sumber Daya Manusia, dan Gagasan

Notes from an Indonesian Policy Wonk

Notes and Analysis on Indonesian Current Affairs and Policies

Khalid Mustafa's Weblog

Sebuah Catatan Kecil

Pan Mohamad Faiz, S.H., M.C.L., Ph.D.

Constitutional Law, Human Rights and Democracy

JURNAL HUKUM

Mari berdiskusi mengenai Filsafat, Hukum, Sumber Daya Manusia, dan Gagasan

The Chronicles of a Capitalist Lawyer

Mari berdiskusi mengenai Filsafat, Hukum, Sumber Daya Manusia, dan Gagasan

Ibrahim Hasan

Mari berdiskusi mengenai Filsafat, Hukum, Sumber Daya Manusia, dan Gagasan

%d bloggers like this: